Bagikan ini :

Maju dan tidak majunya sebuah Desa tergantung Pengelola Desa, yaitu : Kepala Desa, Aparat Desa dan Lembaga Desa Lainnya serta tidak kalah pentingnya tergantung bagaimana pola pikir Masyarakat dan Pemuda Desa Tersebut.

Kita sebagai Masyarakat Desa dan Pemuda Desa jangan pernah merasa malu untuk mengakui tempat kelahiran kita. Jangan pernah ada rasa pesimis dan tidak mau tahu terhadap pembangunan yang ada di Desa, dan Pemerintah Desa juga jangan merasa bisa mengelola Desa tanpa melibatkan masyarakat desa.

Musyawarah Solusi Terciptanya Tranparansi dan Akuntabel

Memberdayakan atau membangun Desa yang utama adalah membangun cara pandang terhadap Desa itu sendiri, dari seluruh stakeholder Desa, mulai dari Kepala Desa, Perangkat Desa, Lembaga Desa hingga Masyarakatnya. Karena jika kita memiliki cara pandang salah maka akan menjadikan Desa tersebut stagnan atau berjalan di tempat, walau seluruh dana di kucurkan untuk membangun Desa tersebut. Namun apabila memiliki cara pandang yang tepat, maka akan mudah dipahami bagaimana Desa bisa berkembang, mau dibawa kemana dan dengan cara apa Desa mampu berkembang pesat.

Dan kita sebagai orang Desa, paradigma kita yang harus diubah. Membangun Desa itu bukan dari Kota, tapi kebalikannya “membangun Kota dari Desa” jadi Desa dulu yang harus kita bangun.

Jati diri harus kita bangunkan, kenapa kita di lahirkan di tempat ini? kenapa tidak di daerah lain? tentunya ada maksud dan tujuan, yaitu untuk membangun dan mengembangkan Daerah dimana kita di lahirkan.

Desa sudah menyediakan ladang kreativitas luar biasa, kadang kita ingin instan. Sehingga kita terhipnotis oleh angan-angan kebahagiaan semu. Padahal, daya tarik dari Kota sebenarnya adalah “penindasan”, kita adalah orang-orang tertindas. Dan kita tidak sadar larut dalam ketertindasan kita dengan nilai-nilai semangat juang, nilai-nilai patuh, takut, malu, menerima, siap grak membuat kita hanya sebagai robot dari para penindas.

Pemuda kebanyakan tenggelam dalam situasi yang menindas, represif, dan tidak mampu lagi menyadari keberadaan dirinya. Mereka larut dalam iklim penindasan yang masif dan tidak mempunyai partisipasi aktif dalam tiap-tiap masalah yang muncul di tengah masyarakat Desa.

Dalam mengatasi masalah-masalah tersebut pemerintah memberikan solusi dengan menggucurkan dana Desa cukup banyak, setiap tahunnya Desa bisa menerima 800 juta sampai 1 Miliar lebih bahkan ada yang sampai 2 Miliar, diharapkan Desa mempunyai pembangunan infrastruktur memadai dan pendapatan masyarakatnya meningkat.

Pemerintah Desa Takut Kelola Dana Desa Untuk Pemberdayaan Masyarakat

Pada peristiwa ini, ada ketakutan Kepala Desa dan jajaranya, khususnya mengelola dana desa. Desa nampak hanya fokus dalam pembangunan infrastruktur, jalan, rabat beton, saluran dan sebagainya. Kepala Desa takut jika ada salah administrasi. Sehingga Dana Desa hanya difungsikan pada pembangunan yang sifatnya fisik semata, bukan mengedepankan pembangunan pada manusianya.

Padahal, salah satu yang membuat para pemuda desa merantau, penyebabnya adalah bukan karena jalan Desa rusak dan pasarnya jelek/atau bangunan tamannya tidak bisa untuk selfi, melainkan minimnya pengetahuan mereka mengenai dunia kerja, mengenai dunia kewirausahaan, dan minimnya bimbingan/pendampingan usaha dari Desa, karena Desa tidak memfasilitasi demikian.

Hari ini kita sudah mengetahui permasalahan yang ada, hari ini kita sudah ketahui bahwa banyaknya potensi yang ada di Desa. Namun sampai saat ini kita belum juga sadar akan semua itu, seakan-akan kita tidak tahu dan tidak mau cari tahu.

Kesimpulannya, bahwa hari ini pemuda sangat dibutuhkan untuk membangun Desa. Pemuda harus menjadi garda terdepan dalam pembangunan ataupun dalam pengembangan Desa.

Jangan malu dengan sarjana kalian, karena sesungguhnya ilmu yang kita dapatkan pada bangku kuliah adalah ilmu yang memang seharusnya untuk disalurkan pada orang banyak, agar lebih berguna dan bermanfaat bagi orang banyak dan khususnya bagi desa tercinta.

Walaupun berbagai gerakan pemberdayaan Desa banyak bermunculan dan belum merata. Bahkan mungkin dari beberapa pemuda yang punya kesempatan belajar sampai tingkat Universitas, setelah lulus belum banyak yang minat kembali ke Desa, dan menjadi sarjana untuk Desa.

Kita adalah pemuda Desa, dari Desa merantau ke Kota untuk mencari ilmu. Maka tak ada salahnya kita kembali ke Desa untuk mengimplementasikan ilmu dan pengetahuan yang kita dapatkan.

Kirim Opini Anda (500-1000 Carakter) ke Email : news@karangtarunalhokseumawe.com

Apa Komentar anda tentang Halaman/Blog ini ?